Kamis, Februari 26, 2009

Bukan untuk Seremoni

Black CoMMuNity---

Ada yang ingat masa ketika masih SD? Saya ingat, tapi tidak seluruhnya. Satu hal yang masih terekam jelas, kala seorang guru agama mengajarkan tentang hari besar agama Islam. Salah satunya, Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid, kerap dikenal hari kelahiran Rasulullah.


Banyak hal yang dilakukan warga Muslim di Tanah Air untuk memperingati hari itu. Sebut saja, tabligh akbar, ceramah dengan mengundang ustadz kondang, dzikir bersama, dan agenda serupa lainnya. Hingga kini, varian agenda tersebut masih kerap digelar di hampir seluruh masjid.

Guru saya pernah berpesan. Katanya, kita harus mampu mengambil hikmah dari peringatan Maulid nabi yang jatuh 12 Rabiul Awal. Kalau mencintai Rasulullah, kita harus berusaha mengamalkan Sunnahnya. Jangan hanya memperingati hari kelahirannya, tapi justru melupakan perilaku yang dicontohkan Rasulullah.

“Bukan itu,” pesan sang guru. Namun, maulid harus dapat dijadikan salah satu momentum untuk mengenang perjuangan Rasul, melakukan kontemplasi; bercermin pada diri sendiri. Sunnah mana saja yang telah kita lakukan? Berapa banyak Sunnah yang ditinggalkan?

Masya Allah. Saya malu untuk menghitung itu. Ada banyak Sunnah yang diajarkan. Tapi lebih banyak Sunnah yang dilupakan. Saya coba mengingatnya lagi. Astaghfirullah. Bukankah ukhuwah salah satu Sunnah yang kerap dicontohkan Rasul. Bahkan telah dinash dalam Al quran.

Faktanya, persatuan umat kian curat marut. Ukhuwah luntur. Barisan tak lagi rapat. Gara-gara fanatisme terhadap tokoh, kelompok, partai, bendera, organisasi, kita saling mengklaim diri yang paling benar. Menuding jamaah lain salah. Ukhuwah dikorbankan, Quran dan Sunnah tak lagi jadi pedoman.

Gara-gara fanatisme buta, merasa paling baik, akhirnya justru memunculkan noda hitam pada jalan dakwah kita. Lalu muncul efek domino dahsyat. Muncul reaksi berantai yang mengancam ukhuwah. Masya Allah. Rasanya sudah saatnya kita harus berbuat lebih pada umat. Menjaga dan meningkatkan ukhuwah sesama pengikut Nabi Muhammad.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada agama Allah dan janganlah kamu bercerai-berai… Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu bersatu karena nikmat Allah, sebagai orang-orang yang bersaudara. Allah telah mengingatkan hal itu dalam Surat Ali Imran, ayat 103.

Saatnya peringatan Maulid tak melulu diisi seremonial. Maulid bukan sebatas agenda seremoni. Mari jadikan Maulid sebagai momentum mengembalikan ukhuwah yang mulai hilang. Dimulai dengan memohon maaf pada saudara dan kelompok yang pernah kita sakiti. Membuka pintu maaf bagi sesama. Sekaligus mengamalkan Sunnah lainnya. Mulai detik ini, mari.

© Mahkamah Hati - Template by Blogger Sablonlari - Header image by Deviantart